Kemenhub Uji Coba Kapal Pakai Gas

Kemenierian Perhubungan akan melakukan uji coba penggunaan bahan bakar gas pada kapal milik negara mulai tahun ini.

Direktur Lalu Lintas Laut Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub Harry Budiarto menyata ka n pelaksanaan uji coba itu akan dilakukan bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk dan PT Pertamina Gas.

Nantinya, dia menegaskan kapal negara akan menggunakan converter kit untuk dua model bahan bakar baik minyak dan gas.

 

Uji coba itu untuk mendorong pemanfaatan gas sebagai bahan bakar kapal sehingga dapat menurunkan biaya operasional akibat tingginya harga solar.

"Tahun ini, baru kapalnya dulu yang dipersiapkan sebagai contoh ke masyarakat. Rencana akan ada dua unit [kapal] negara [yang diujicobakan]," ujarnya, Senin (8/6).

Sebagai perbandingan, harga Solar (MFO) nonsubsidi untuk kapal sebesar Rp 13.500 per liter dan Solar (FO) nonsubsidi sebesar Rp 10.400 per liter. Untuk harga BBG jenis LNG nonsubsidi berkisar Rp6.000 per liter.

Dari 87.000 unit kapal yang melakukan pelayanan global pada 2014, tuturnya, hanya 5% kapal yang menggunakan LNG sebagai bahan bakar utama.

Dia menuturkan International Maritime Organization (IMO) akan mulai memperkenalkan zona pengawasan emisi di dunia mulai 2016---2020.

Bahkan, pelabuhan kedua terbesar di Eropa setelah Amsterdam yaitu Pelabuhan Antwerp, Belgia, telah membangun fasilitas LNG.

Terhitung pada 1 Juni 2015, Pelabuhan Antwerp bahkan memberikan potongan harga untuk biaya pelabuhan hingga 30% bagi kapal berbahan bakar gas.

Dia menyebutkan perlunya dukungan infrastruktur gas yang belum bisa dibangun pada tahun ini.

Menurutnya, pelabuhan harus mempersiapkan bungker untuk gas. Pelabuhan juga perlu menyiapkan pusat pelayanan kapal dan truk pengangkut tangki LNG.

Sementara itu. Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners' Association (1NSA) Carmelita Hartoto menuturkan penggunaan BBG masih jauh dari harapan karena infrastruktur di Indonesia belum mendukung.

Dia berpendapat penggunaan gas dalam pelayaran global juga belum begitu masif. "Pelayaran juga memaksimalkan penggunaan IT [information technology] dalam transaksi dan mendorong penggunaan BBG pula," katanya.

Untuk terus mendorong operasional kapal yang efisien, INSA telah memberlakukan join slot untuk memaksimalkan ruang muat kapal.

Hal tersebut merupakan langkah untuk mengatasi banyaknya kapal yang kekurangan muatan akibat kargo yang lesu.

Menurutnya, berbagai terobosan INSA untuk menurunkan biaya operasional masih terhambat karena harga bahan bakar minyak kapal untuk pelayaran domestik lebih mahal hingga US$100.

Selain itu, biaya perbaikan kapal yang lebih mahal 10% akibat beban fiskal. Untuk itu, pihaknya terus mendorong pemerintah untuk menerapkan kebijakan yang sesuai dengan kelaziman dunia. "Tetapi kita harus menyadari bahwa biaya operasional pelayaran saat ini relatif tinggi, salah satunya karena beban fiskal dan moneter yang tidak lazim di pelayaran." (Veronika Yasinta)

sumber: http://klipingkemenhub.com/view_page.php?ridparam=2555037